Info

Judul : Tayub - Tari

Penulis :

Pustaka :

Sumber :

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Tayub - Tari

- Thu, Mar 07 2013 15:10:23

Tari Tayub atau Ibing Tayub, termasuk sejenis tari pergaulan. Di luar pendopo, kesenian ini disebut pesta (fiesta). Pada mulanya tarian ini hidup di kalangan menak pada masa feodal sekitar tahun 1900-an. Oleh sebab itu tarian ini juga sering dijuluki sebagai tari kalangenan para menak, atau tari hiburan bagi kaum menak. Ada pula yang memberi julukan sebagai Ibing Saka, karena cara menarinya saka inget atau improvisasi, menari sekehendak hati. Tayub, biasanya dipertunjukkan di pendopo kabupaten pada acara-acara tertentu. Para penarinya tentu saja kaum menak.

Ronggeng adalah salah satu ciri dalam tayuban. Ia menari bersama penari laki-laki secara berpasangan. Dalam pelaksanaannya, sebelum dimulai menari, biasanya ada seorang penari yang terlebih dahulu menari sambil membawa baki yang diisi soder (selendang) dan keris. Penari tersebut disebut dengan penari baksa atau tukang ngabaksaan, yakni penari yang berfungsi untuk memilih orang yang akan dipersilahkan menari bersama ronggeng. Orang yang dipersilahkan menari terlebih dahulu biasanya adalah orang yang kedudukannya di dalam masyarakat dianggap paling tinggi atau terhormat. Demikian seterusnya, pembawa soder itu mempersilahkan orang yang akan menari dengan cara demikian. Setelah seseorang diberi soder, kemudian ia meminta lagu yang disenanginya kepada nayaga, misalnya lagu gawil, renggong Bandung, kastawa, sulanjana, kawitan, gunungsari, dan sebagainya.

Dalam pergelaran tayub ada juga penari yang disebut pamair, atau mairan, yakni penari yang menemani penari yang disoderan (diberi soder). Seseorang yang akan tampil sebagai pamair, biasanya meminta izin dengan cara membungkukkan badannya sambil melentikkan kedua ibu jarinya. Setelah mereka selesai menari, ronggeng biasanya menghampiri para penari itu sambil membawa bokor untuk meminta imbalan. Akan tetapi ada juga yang memberikan uang itu dengan cara yang kurang senonoh dan akhirnya dianggap melanggar norma susila masyarakat. Rupanya, itulah sebabnya, mengapa ronggeng seringkali dijuluki sebagai penari bayaran. Perlakuan terhadapnya dari para penari pria menjadikan ia dituding sebagai biang pelanggaran norma-norma susila. Oleh karenanya, kemudian ronggeng tidak diperkenankan menari lagi.

Pada zaman dahulu para penari tayub seringkali meminum minuman keras berupa arak, whisky, dan sejenisnya. Minuman itu biasanya tersaji dalam beberapa buah sloki yang dibawa dalam nampan (baki) oleh seseorang, kemudian ditenggak setelah mereka selesai menari. Pada mulanya, ’minum’ itu dimaksudkan hanya sebagai penghangat badan dan untuk membangkitkan semangat serta untuk menumbuhkan kepercayaan diri para penayub. Akan tetapi, di luar tujuan itu, tak jarang di antara mereka yang sampai mabuk. Tentu saja hal tersebut mengundang banyak ketidaksetujuan dari masyarakat karena bertentangan dengan etika dan norma keagamaan. Akhirnya, minuman keras pun ditiadakan.

Gejala negatif yang ada dalam tayuban, lambat-laun mulai ditertibkan dan atas prakarsa Aom Doyot, sistem nayub, yakni menari secara improvisasi (ibing saka), minum, dan ronggeng, kemudian ditertibkan. Gerakan-gerakan tari yang ada dalam tayuban kemudian disusun sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah komposisi gerak yang terstruktur. Komposisi gerak itulah yang kemudian disebut sebagai ibing patokan, atau selanjutnya disebut Ibing Keurseus.