Info

Judul : Panakawan

Penulis :

Pustaka :

Sumber :

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Panakawan

- Wed, Jun 13 2012 14:57:58

Panakawan adalah "pelayan," atau "pengiring." Dalam wayang, terdapat dua kelompok panakawan: untuk (bangsawan) pihak-baik dan pihak-buruk atau jahat. Akan tetapi, terutama dalam wayang di Jawa, panakawan (pihak baik maupun buruk) bukan semata sebagai pengiring. Sebagian dari para panakawan ini malahan merupakan perwujudan, sederajat atau bahkan lebih tinggi dari para dewa. Semar, umpamanya, adalah Sanghyang Ismaya, abang Sanghyang Manikmaya (Batara Guru sebagai penguasa Kahyangan). Demikian juga Togog (panakawan di pihak buruk) adalah Sanghiang Munged, abang Ismaya. Dalam beberapa cerita wayang (karangan), ketika ada musuh yang demikian sakti sehingga baik Pandawa maupun Dewa tidak mampu mengalahkannya, panakawanlah (biasanya Semar) yang mengalahkannya. Dalam wayang Sasak di Lombok, Umar Maya, yang juga sebagai keluarga dan penasihat tokoh utama (Wong Agung Menak), ia terkenal sangat sakti, yang juga sangat pintar sehingga dianggap sebagai "otak" Wong Agung Menak.

Wujud panakawan, walaupun semuanya serupa, buruk rupanya dan miskin atau hidup sederhana, tinggal di desa, jumlah, karakter, ataupun fungsinya dalam pertunjukan berbeda-beda. Di Jawa panakawan pihak-baik berjumlah 4 orang (Semar Gareng, Petruk, dan Bagong) dan 2 orang di pihak buruk (Togong dan Bilung). Dalam wayang golek Sunda, jumlahnya sama dengan wayang kulit Jawa Tengah. Di Bali, masing-masing 2 Tualen dan Merdah di pihak baik, dan Dalem dan Sangut di pihak buruk. Di Lombok yang membawakan cerita Menak Amir Hamzah dari tanah Arab, karakter serupa panakawan itu 2 orang, Umar Maya dan Umar Madi. Di Cirebon, panakawan pihak-baik itu berjumlah 9 orang, yaitu Semar, Sekarpandan, Ceblok, Bitarota, Astrajingga (Bagong), Dewala, Cungkring, Gareng, dan Bagalbuntung. Konon, jumlah yang 9 itu sering dihubungkan dengan jumlah 9 orang Wali.

Namun demikian, fungsi yang paling kentara dalam pertunjukan adalah bahwa panakawan ini menampilkan adegan yang lucu menyegarkan. Untuk adegan lucu-segar ini, di Jawa dikenal dengan gara-gara (goro-goro).Dalam beberapa dekade terahir, karena populernya bagian ini, dari sekitar 8 jam pertunjukan semalam suntuk adegan gara-gara bisa mencapai 2 jam atau lebih, atau sekitar seperempat dari seluruh pertunjukannya.

Pentingnya karakter dan adegan-adegan lucu bukan hanya dalam pertunjukan wayang, demikian pula dalam teater seperti sandiwara, seperti Dul Muluk, Mamanda, Masres, wayang orang, dan sebagainya. Dalam sandiwara, biasanya tidak disebut panakawan, melainkan bodor atau pelawak.