Info

Judul : Pesta Dadung - Upacara

Penulis :

Pustaka :

Sumber :

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Pesta Dadung - Upacara

- Wed, Jun 13 2012 14:56:47

Pesta Dadung adalah kesenian masyarakat Desa Legokherang, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan. Kesenian ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke 18 dan sejak awal difungsikan untuk ritus kesuburan (pertanian). Ritus ini dimaksudkan sebagai bentuk pemujaan terhadap Ratu Galuh yang dipercaya masyarakat setempat sebagai ratu pelindung hewan. Ratu Galuh adalah penggembala ’batin’ dengan banyak julukan seperti Nyai Pelenggirarang, Sang Ratu Biting, Sang Ratu Bopong, Ratu Geder Dewata, atau Ratu Koja Dewatana. Julukan sebagai ratu penggembala berkaitan erat dengan tipologi masyarakat Sunda yang tergolong sebagai masyarakat pastoral atau masyarakat ladang.

Dadung, artinya tambang, biasanya terbuat dari serat kulit kayu waru yang berfungsi untuk mengikat kerbau atau sapi. Pesta Dadung tak lain adalah ritus bagi penggembala. Oleh sebab itu, ritus itu juga sering disebut dengan ritus budak angon. Para budak angon sengaja diupacarakan dengan maksud agar mereka tetap bergairah menggembalakan ternaknya (biasanya kerbau dan sapi) serta gembalaannya tetap sehat dan kuat.

Seperti juga ritus-ritus lainnya, pesta dadung selalu dilaksanakan setahun sekali pada masa katiga (kemarau) menjelang musim hujan turun. Akan tetapi, waktu pelaksanaannya kemudian diubah menjadi setiap tanggal 18 Agustus berkaitan dengan perayaan HUT Kemerdekaan R.I. Tempatnya di halaman balai desa.

Pesta tersebut pada awalnya diiringi oleh gamelan renteng, namun karena gamelan tersebut terbakar pada masa DI/TII, kemudian diganti dengan dogdog, dan akhirnya kini diganti dengan gamelan pelog atau salendro. Upacara itu mempunyai beberapa tahapan: kebaktian, Rajah Pamunah, (Tulak Allah, atau Qulhu Sungsang), dan hiburan, yakni tayuban.

Upacara kebaktian mengupacarakan dadung, dan akan dimulai jika segala persyaratan sudah terpenuhi, antara lain: pengumpulan dadung sepuh atau dadung pusaka, yakni dadung yang paling besar (dadung keramat) serta dadung para penggembala, dan sesajen yang terdiri atas: parawanten, rurujakan, dan jajanan pasar. Setelah semua persyaratan dianggap komplit, sesepuh upacara kemudian membakar kemenyan dan membaca mantera. Berikut adalah mantranya:

 

Allah kaula pangampura

parukuyan rat gumilang

aseupna si kendi wulang

ka gigir ka para nabi

ka handap ka ambu ka rama

nu calik tungtung damar

kadaharan tungtung kukus

sakedap kanu kagungan

 

Selesai membacakan mantera, dadung para gembala diambil oleh masing-masing pemiliknya. Sedangkan dadung keramat diletakkan di atas sebuah baki dan dibawa oleh ronggeng sambil menari. Dadung tersebut kemudian diberikan kepada Kepala Desa dan diserahterimakan kepada Raksabumi untuk diberikan kepada sesepuh upacara. Gulungan dadung dibuka, ujung yang satu dipegang sesepuh upacara dan ujung yang satunya lagi dipegang oleh ketua RT. Sesepuh upacara kemudian melantunkan kidung rajah pamunah, yang diteruskan dengan pembacaan tulak Allah. Setelah itu, dadung kemudian ditarikan oleh kepala desa disertai para aparat desa dan ronggeng dalam iringan lagu renggong buyut.

Setelah selesai, dadung kemudian disimpan kembali dan acara dilanjutkan dengan tayuban. Penarinya adalah para penggembala dan masyarakat yang hadir dalam upacara tersebut. Mereka menari sampai pagi dan berakhir sekitar pukul 04.00 pagi. Kini, pesta dadung tersebut dijadikan sebagai salah satu bagian dari upacara miceun hama (membuang hama) di Situ Hyang dalam rangkaian upacara Seren Taun di Cigugur, Kabupaten Kuningan.