Info

Judul : Mapag Sri - Upacara

Penulis :

Pustaka :

Sumber :

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Mapag Sri - Upacara

- Wed, Jun 13 2012 14:46:20

Mapag Sri adalah ritus yang terhubung dengan mitos Dewi Sri atau Nyi Pohaci Sanghyang Sri yang dianggap sebagai Dewa Padi. Bagi masyarakat tradisional, Dewi Sri adalah dewi pemberi kehidupan dan menuntun orang pada berbagai tatacara menghormati acining kehidupan. Oleh karena itu, jikalau orang hendak menuai padi yang telah menguning, sebelumnya beberapa bulir padi dipungut dan dibentuk seperti dua orang (lambang sepasang pengantin) yang dipertemukan dan diarak pulang, dengan harapan bahwa padi mendatangkan hidup yang bermanfaat bagi yang memilikinya. Sanghyang Sri adalah hidayah, lambang Dunia Atas yang sengaja diundang turun ke bumi untuk memberikan berkatnya. Padi, mulai dari tanam sampai panen diupacarakan dengan bermacam-macam cara. Sebutannya juga bermacam-macam: Ngampihkeun, Ngaseuk, dan sebagainya. Demikian pula pelaksanaannya, masing-masing mempunyai tatacaranya sendiri. Waktu dan tempat pelaksanaannya tidak bisa sembarangan, biasanya dihitung berdasarkan hari wuku dan hari pasaran.

Di dalam upacara tersebut, biasanya disediakan sesaji dan kesenian. Sesaji adalah bagian penting dalam upacara itu. Tanpa sesaji, upacara itu menjadi tak lengkap. Jenis sesaji yang harus disediakan, di masing-masing tempat berbeda. Demikian pula kesenian yang dihadirkannya. Di Rancakalong, Sumedang, misalnya, upacara ngampihkeun disertai dengan kesenian tarawangsa. Di Baduy, upacara ngaseuk disertai dengan angklung. Di Cirebon, khususnya di Desa Pangkalan, disertai dengan topeng dan wayang kulit. Di sebagian daerah Subang, mapag sri juga disertai dengan tanggapan wayang kulit.

Sanghyang Sri, dalam pandangan orang Jawa adalah Ibu Bumi. Ia-lah ”waktu permulaan” (asal mula), waktu ”yang tidak mengalir” karena waktu ini tidak berpartisipasi dalam durasi waktu profan. Sebab yang bersifat ilahiah adalah sebab segala sesuatu itu lahir. Padi ditanam dan menjadi makanan sehari-hari. Padi dimakan secara ritual, secara berkala. Hyang Sri melaksanakan ritual in illo tempore dan menunjukkan kepada manusia bagaimana cara menanam dan memakannya.

Mitos yang sangat tua itu terhubung dengan asal-usul suku Jawa, dan dikaitkan dengan dua “tokoh ilahi”, yang bernama Sri dan Sadono, yang sekalipun namanya diambil dari agama Hindu (Sri ialah Laksmi, istri Wisnu, sedang Sadono ialah dewa Wisnu itu sendiri), namun oleh orang Jawa, keduanya dipandang sebagai bapak asal dan ibu asal, sebagai sumber pemberi kehidupan, dan kesejahteraan. Sri dan Wisnu adalah dua tokoh yang saling mencintai namun keduanya selalu terpisah dan mengalami percobaan-percobaan ketika ingin bersatu. Keduanya kemudian sepakat untuk menitis, Sri menjadi putri raja di Daha atau Kediri, dengan nama Sekartaji atau Condrokirono, sedangkan Sadono menjadi putra raja Jenggala dengan nama Panji. Seperti kita ketahui bahwa dalam cerita Panji, kedua tokoh itu akhirnya kawin juga.

Dalam upacara Mapag Sri, dapat dilihat secara jelas adanya jejak-jejak kehadiran agama dan religio-magis yang berpusat kepada adanya dewa tertinggi yang meliputi seluruh kenyataan. Ia terdapat pada semua makhluk yang bergerak ataupun yang tidak bergerak. Semua memiliki jiwa atau semangat yang pada akhirnya akan kembali menyatu pada sang dewa tertinggi itu. Kenyataan ini dapat dilihat dari pertunjukan wayang sebagai media untuk menghadirkan roh nenek moyang, yang senantiasa menyajikan cerita tentang Dewi Sri. Bahwa menceritakan sebuah mitos adalah menyatakan apa yang terjadi pada aborigine. Sekali diceritakan, yaitu diwahyukan, mitos menjadi kebenaran apodiktik; membangun kebenaran yang absolut. Karenanya mitos selalu merupakan cerita penciptaan; mitos mengatakan bagaimana sesuatu disempurnakan, mulai ada. Karena alasan ini maka mitos diikat dengan ontologi; mitos hanya berbicara mengenai apa yang benar-benar terjadi, mengenai apa yang sunguh-sungguh dimanifestasikan.

Masyarakat Jawa Barat termasuk salah satu pengayom berbagai ritual, baik adat maupun keagamaan. Ritus yang bertebaran di berbagai pelosok dengan berbagai macam dan ragamnya, pada dasarnya berpijak pada tiga hal. Pertama, ritus yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia. Kedua, yang berkaitan dengan alam semesta, dan ketiga, yang berkaitan dengan keagamaan. Ketiga kelompok ritus itu kini masih bisa disaksikan dalam berbagai peristiwa kehidupan sosial, baik secara individual maupun komunal.

Jawa Barat juga adalah wilayah dengan banyak keramat. Ratusan tempat dipuja dan dikeramatkan dengan macam-macam upacara. Pelaksanaannya ada yang dilakukan setahun sekali, dua tahun sekali, dan ada juga yang empat sampai delapan tahun sekali. Upacara-upacara itu bisa dijumpai pada bulan-bulan tertentu, terutama pada bulan-bulan sehabis panen. Tempat pelaksanaannya juga amat beragam, tergantung dari bentuk dan jenis upacaranya, misalnya di makam keramat (buyut), rumah atau bangunan, halaman balai desa, halaman rumah, keraton, mesjid, pantai, sawah, kebun, mata air, dan sebagainya. Setiap tempat akan menentukan jenis upacaranya, misalnya upacara unjungan, bersih desa, sedekah bumi, ngarot, mapag sri, buka sirap, memayu, mitoni, seren taun, wuku taun, ngaseuk, rasulan, panjang jimat, nadran, dan sebagainya.