Info

Judul : Kembang Sungsang – Musik Topeng Panji

Penulis :

Pustaka :

Sumber :

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Kembang Sungsang – Musik Topeng Panji

- Thu, Mar 14 2013 17:26:54

Kembang sungsang adalah musik pokok tari topeng Panji Cirebon. Di samping lagu tersebut, ada beberapa lagu lainnya, sepeti lontang gede, oet-oetan, dan pamindo deder yang tersusun menjadi sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan.

Secara teknis lagu tersebut paling sulit dibandingkan dengan musik pengiring tari topeng lainnya. Kembang Sungsang adalah lagu yang nada-nadanya tersusun dalam berbagai bentuk melodi. Setiap akhiran lagu (goongan) terdiri atas susunan melodi yang panjang dalam bentuk ostinato (melodi yang diulang-ulang). Setiap birama melodi juga terdiri atas berbagai ritme dan mempunyai irama sendiri-sendiri.

Dalam beberapa bagian lagu itu, terdapat nada-nada yang sungsang (retroged) bolak-balik, akan tetapi kata sungsang di depan kata kembang itu acuannya bukanlah dari sebagian kecil nada-nada inversinya. Makna sungsang dalam pengertian terbalik, tidak secara eksplisit mengindikasikan adanya melodi, ritme atau nada-nada yang sesuai dengan makna semantiknya. Makna dari judul lagu tersebut melebihi arti harafiahnya.

Kecepatan dari setiap tingkatan irama (dodoan, ungga tenga, deder) dan setiap lagu pengiring itu tidak selamanya ajeg. Artinya, irama dari masing-masing lagu itu bisa lambat dan bisa juga cepat. Hal ini amat tergantung kepada gerakan penarinya. Peralihan kecepatan itu sekaligus membentuk dinamika tari, sehingga terasa tidak monoton. Dinamika itu adalah simbol bahwa hidup itu adakalanya turun adakalanya naik, dan bahwa kehidupan itu sendiri terjal dan berliku-liku, adakalanya di atas dan adakalanya di bawah. Hal ini bisa diperhatikan dengan mendengarkan bunyi dan kecepatan melodi yang ditabuh, kadang-kadang keras dan kadang-kadang pelan. Iramanya turun-naik seperti orang bicara pelan dan lantang.

Kembang Sungsang, apakah artinya sama dengan bunga terbalik? Secara harafiah, kata tersebut memang berarti ‘bunga terbalik’. Pertanyaan lain muncul, apakah Kembang Sungsang adalah nama sejenis bunga? Jika ya, bagaimana bentuk dan rupanya? Di mana ia tumbuh? Apakah Kembang Sungsang itu adalah bunga apa saja yang mekar, dan mahkotanya terbalik, berjuntai ke bawah? Agaknya, Kembang Sungsang bukanlah nama sejenis bunga. Kembang Sungsang adalah bunga ciciptan (khayalan) sebagai sebuah simbol yang dipergunakan untuk menyembunyikan suatu makna tertentu. Ia adalah kembang misteri dan di balik namanya itu tersimpan rahasia besar.

Di daerah Jawa Barat, memang banyak lagu yang namanya diambil dari nama bunga seperti Kembang Boled, Kembang Kangkung, Kembang Gadung, Kembang Beureum, dan sebagainya. Dalam realitas, bunga-bunga sebagai judul lagu tersebut memang ada. Akan tetapi, dalam realitas, nama Kembang Sungsang, sekali lagi, tidak pernah ada wujudnya.

Ada juga pendapat bahwa, Kembang Sungsang dapat diartikan sebagai donya sing diwolak-walik (dunia yang dibolak-balik). Kembang artinya harapan atau hidup, sungsang artinya terbalik. Jadi Kembang Sungsang adalah kehidupan yang terbalik atau paradoks, yakni kehidupan di alam rahim dan di alam dunia. Saosiké-saobahé ning alam keraton (rahim) lan sausiké-saobahé ning alam donya. Kehidupan dalam rahim adalah kehidupan yang tidak bebas, sedangkan kehidupan setelahnya adalah kehidupan yang bebas. Artinya, bahwa hidup ini akan selalu mengalami hal yang bolak-balik. Kita tidak akan pernah terkungkung selamanya, namun juga tidak akan pernah bebas selamanya. Kita tidak akan senang selamanya, tidak pula akan sedih selamanya. Siang akan berganti malam. Terang akan berganti gelap. Dengan demikian, kehidupan yang terbalik itu akan selalu dialami.

Kata sungsang juga ditemukan dalam bait kakawin wayang golek. Paling tidak ada dua kakawen yang menyertakan kata sungsang, yakni dalam kakawen pembuka sebelum wayang mulai bercerita dan dalam kakawen (suluk) untuk Gatotkaca yang disebut Waringin Sungsang. Waringin Sungsang, artinya sama dengan beringin terbalik, pucuknya di bawah dan akarnya di atas. Adakah dalam kenyataan sehari-hari? Tentu saja tidak pernah ada. Ini jelas sebuah simbol.

Kembang Sungsang, secara harfiah artinya bunga terbalik, sama dengan Waringin Sungsang, artinya beringin terbalik. Pucuknya di bawah dan akarnya di atas. Ini mirip dengan cerita Si Kabayan Ngala Tutut (Si Kabayan mengambil siput). Ia tidak mau terjun ke sawah karena ia melihat langit ada di bawah telapak kakinya. Disangkanya sawah itu dalam. Ketika ia didorong mertuanya dan tercebur ke sawah, ternyata sawah itu dangkal. Ia kemudian berucap: “el da deet” (ternyata dangkal). Langit yang jauh di atas, ada di bawah sawah. Ketinggian langit adalah kedalaman sawah. Jadi, jauh itu amat dekat; yang dalam itu dangkal; yang rumit itu sederhana; yang besar itu ada pada yang kecil; dan yang tak tampak itu sangat tampak. Demikianlah jika manusia sudah makrifat.