Info

Judul : Doger-Tari

Penulis :

Pustaka :

Sumber :

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Doger-Tari

- Thu, Mar 14 2013 17:21:23

Doger adalah sebutan lain untuk ronggeng, yaitu perempuan yang memiliki kemampuan menyanyi dan juga menari. Bentuk pertunjukannya serupa dengan Ketuk Tilu. Gerakan tarinya tidak mempunyai pola khusus dan setiap penari bebas mengungkapkan gerak sesuai dengan keinginannya. Doger, biasanya menari bersama penari laki-laki.

Kesenian tersebut berkembang sekitar akhir abad ke-20 di kawasan perkebunan Kabupaten Subang. Pada masa itu, di Subang terdapat sebuah perusahaan perkebunan yang bernama Pamanoekan and Tjiasem Land (P&T Land) yang dipimpin oleh Hofland yang sangat peduli terhadap kesejahteraan para buruh. Hal ini berdampak pada meningkatnya penghasilan para buruh sehingga meningkatkan taraf hidup mereka. Para kuli kontrak mendapatkan gaji yang tinggi bila dibanding dengan upah buruh di daerah lain. Kondisi ini sangat menunjang terhadap kehidupan seni doger yang kian mendapat tempat di hati masyarakatnya karena dapat menghibur para kuli kontrak.

Kesenian doger dan ronggeng di Jawa Barat terdapat di dua wilayah, yaitu di wilayah pesisir (bagian utara) dan di pegunungan (bagian selatan). Awalnya kesenian ini dibawa oleh para seniman bebarang (keliling) yang dibawa ke daerah perkebunan. Dari persentuhan antara ronggeng dan kesenian rakyat, maka lahirlah kesenian doger. Setiap akhir pekan, ketika para kuli kontrak menerima gaji, kelompok doger menggelar pertunjukannya berbarengan dengan diselenggarakannya pasar malam. Tempat tersebut dianggap sebagai lahan subur untuk mencari uang, dan doger menjadi salah satu hiburan bagi para pekerja perkebunan.

Pertunjukannya dilakukan di arena yang cukup luas, seperti tanah lapang, halaman rumah, atau juga di pasar. Waktu pertunjukan biasanya dimulai jam 20.00 sampai larut malam, bahkan bisa sampai dini hari, tergantung permintaan para penggemarnya. Di tengah arena pertunjukan, diletakkan sebuah oncor (obor) sebagai alat penerangan yang sekaligus juga sebagai pusat orientasi pertunjukan. Selama berlangsungnya pertunjukan, acara diatur dan dipimpin oleh lurah kongsi. Ia adalah pimpinan rombongan kesenian tersebut. Kostum yang digunakan para doger adalah baju lengan panjang, rok panjang berbentuk klok tidak ketat, selendang yang dikalungkan, serta memakai kaos kaki.

Pertunjukan diawali dengan tatalu (pembuka). Tatalu adalah tanda acara akan dimulai. Setelah itu, para doger maju ke tengah arena diawali dengan adegan berjalan mengelilingi oncor. Usai berkeliling, para doger menari dengan gerakan yang sama. Setelah itu dilanjutkan dengan menari bersama penonton (laki-laki). Penari laki-laki yang diberi kesempatan pertama biasanya adalah pejabat atau tuan tanah. Para penari itu diatur oleh lurah kongsi. Selama pertunjukan berlangsung, biasanya ada pasangan penari yang “menghilang”, dibawa ke luar arena. Tentu saja hal itu atas seijin lurah kongsi dengan batas waktu tertentu. Ketika waktu yang telah ditentukan habis, maka lurah kongsi akan memberi peringatan kepada para penonton yang telah meminjam doger untuk segera kembali ke arena pertunjukan. Hal ini dilakukan sebagai kendali agar para doger terawasi keberadaannya dan untuk menghindari hal-hal yang dianggap melanggar norma-norma kesusilaan yang berlaku di masyarakat.

Masa berkembangnya seni doger berlangsung hingga tahun 1940-an dan popularitasnya mulai menurun pasca Perang Dunia II. Pada masa itu kegiatan perkebunan terhenti dan para buruh banyak yang terlibat dalam peperangan, sehingga doger tidak ada yang menanggap lagi.

Sekitar tahun 1970-an ada upaya merevitalisasi pertunjukan doger, yang diangkat dan dilakukan oleh para dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung. Lahirlah tarian yang kemudian diberi nama Doger Kontrak. Tarian ini hingga tahun 2001 sering menjadi materi pertunjukan dalam berbagai acara di Jawa Barat.