Info

Judul : Parebut Seeng atau Tepak Seeng

Penulis : Toto Amsar Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Parebut Seeng atau Tepak Seeng

- Thu, Feb 21 2013 11:43:47

 

Parebut Seeng atau ada juga yang menyebut Tepak Seeng, adalah kesenian tradisional yang hidup di sebagian wilayah Kabupaten Bogor. Kesenian ini dinamakan Parebut Seeng karena salah satu dari acara dalam upacara adat pernikahan itu adalah memperebutkan seeng. Seeng artinya  dandang yakni alat dapur yang biasanya dipergunakan untuk menanak nasi atau mengukus berbagai jenis makanan.

   Awalnya kesenian ini tumbuh di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor yang merupakan pusat aliran seni bela diri yang sangat terkenal, Cimande. Pada awalnya, atraksi Parebut Seeng disebut Tepak Seeng dan biasanya ditampilkan dalam salah satu acara yang terdapat dalam rangkaian upacara adat pernikahan. Kesenian ini kemudian menyebar ke berbagai tempat seiring dengan penyebaran aliran pencak silat Cimande ke berbagai wilayah di Kabupaten Bogor, antara lain sampai ke Kampung Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari. Diperoleh keterangan, bahwa pada sekitar tahun 1925, salah seorang warga Sindangbarang (waktu itu termasuk Kecamatan Ciomas) yang bernama Bapak Ujang Aslah bermukim di Cimande dan ia belajar pencak silat aliran Cimande dari Abah Haji Hasbulloh.

Setelah lima tahun mempelajari Penca Silat Cimande, kemudian ia kembali ke kampungnya dan mengajarkan pencak tersebut kepada salah satu keturunannya, yakni Ukat S. Ia, seperti juga ayahnya, kemudian mengajarkan aliran pencak tersebut ke berbagai kalangan di sekitar daerah Pasir Eurih. Pada tahun 2006, ia pun berusaha untuk menghidupkan kembali seni Parebut Seeng di bawah asuhan Lurah Pasireurih yaitu Bapak Etong Sumawijaya. Sejak tahun 1950-1970-an pencak silat aliran Cimande berikut atraksi Tepak Seeng yang kemudian dinamakan Parebut Seeng, berkembang dan menyebar ke berbagai tempat. Sepeninggalnya Bapak Etong Sumawijaya, kesenian tersebut dilanjutkan oleh salah seorang cucunya yang bernama Maki Sumawijaya hingga saat ini.

Seni Parebut Seeng terkait dengan upacara adat pernikahan yang pelaksanaannya dilakukan sebelum akad nikah, yakni setelah kedua belah pihak yang akan bebesanan saling memperkenalkan diri. Dahulu, sebelum tahun 80-an, yakni ketika infrastruktur jalan dan transportasi belum berkembang pesat, keluarga calon pengantin pria untuk sampai ke tempat calon pengantin wanita, mereka berjalan kaki, seberapa pun jauhnya, diantar oleh kerabat dan handai-taulan sambil diiringi oleh tetabuhan kendang penca. Mereka membawa berbagai macam barang dan makanan untuk dipersembahkan kepada calon pengantin wanita, seperti macam- macam bumbu, makanan, alat-alat dapur, pakaian, sirih-pinang, bahkan kambing pun dituntunnya. Kini, setelah hal tersebut berkembang pesat, tradisi tersebut perlahan-lahan hilang.

Kedatangan mereka biasanya disambut dengan sukacita oleh keluarga calon mempelai wanita, kemudian mereka melaksanakan upacara adat penyambutan. Dimulai oleh wakil dari rombongan calon pengantin pria, yang disebut bobotoh, beruluk-salam, memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud dan tujuan  kedatangannya. Keluarga calon pengantin wanita, yang juga diwakili oleh bobotoh, kemudian membalas salam dari keluarga calon pengantin pria seraya mengatakan bahwa maksud dan tujuan kedatangannya dapat dipahami. Akan tetapi, untuk menguji bahwa calon pengantin pria itu benar-benar lelaki perkasa, pihak keluarga calon pengantin pria mengajukan tantangan, yakni akad nikah hanya bisa dilaksanakan jika pihak calon pengantin wanita dapat merebut seeng yang dibawa oleh salah seorang Jawara dari pihak pria. Pihak calon pengantin wanita bersedia menerima tantangan tersebut. Kedua Jawara kemudian berlaga saling mengadu kekuatan. Mereka maju ke kalangan, memasang kuda-kada sambil memperlihatkan jurus-jurus silatnya. Setelah itu mereka beradu ketangkasan dengan cara saling pukul, saling tendang, masing-masing berusaha untuk menangkis dan menghindar setiap serangan lawan. Jawara yang satu berusaha untuk mempertahankan seeng yang digendong dan Jawara yang satunya lagi berusaha untuk merebutnya. Pergulatan itu akan berakhir jika Jawara dari pihak calon pengantin wanita dapat menyentuh seeng tersebut. Acara pun dilanjutkan dengan seserahan, yakni menyerahkan calon pengantin pria dan seluruh barang bawaannya kepada pihak calon pengantin wanita. Setelah itu barulah akad nikah dilaksanakan.

Setelah akad nikah selesai, biasanya dilanjutkan dengan ngeuyeuk seureuh, dan sawer panganten, kemudian dilanjutkan dengan acara hiburan berupa tari-tarian Pencak Silat aliran Cimande.