Info

Judul : Panjer

Penulis : Toto Amsar Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Panjer

- Thu, Feb 21 2013 11:42:13


Panjer atau panjar, secara umum artinya sama dengan perskot atau uang muka sebagai tanda kesepakatan dari kedua belah pihak atas suatu hal, misalnya tentang suatu kegiatan hajatan atau alih kepemilikan suatu barang. Akan tetapi, dalam konteks kesenian, khususnya seni pertunjukan, panjer atau pamanjer artinya adalah sebuah tanda kesepakatan bahwa suatu tanggapan kesenian itu akan dilaksanakan. Kesepakatan itu biasanya menyangkut dua hal pokok.

Pertama, perihal waktu pelaksanaan yang menyangkut hari, tanggal, bulan, tahun, bahkan jam. Kedua, perihal harga tanggapan. Jika kedua hal tersebut telah disetujui kedua belah pihak, maka keduanya secara otomatis terikat oleh persetujuan tersebut, sehingga keduanya mempunyai kewajiban untuk saling mematuhi. Pihak pertama (penanggap), dianggap sebagai yang punya utang dan berkewajiban untuk melunasi sisa jumlah uang yang belum dibayarkan. Biasanya sisa uang itu akan dilunasi manakala tanggapan itu selesai dilaksanakan. Pihak kedua (yang ditanggap), mempunyai utang kerja dan berkewajiban untuk melaksanakannya sesuai dengan persetujuan awal tadi.

Adapun mengenai jumlah uang panjar, biasanya tidak dipastikan besarannya, dan dalam hal ini akan sangat tergantung kepada si penanggap (yang punya hajat), berapa rupiah uang yang disiapkannya. Pihak kedua, biasanya akan segera mencatat waktu pelaksanaanya dalam buku agenda, atau ia akan melingkari tanggal di kalendernya sambil membubuhkan beberapa catatan sebagai pengingat. Oleh sebab itulah, mengapa kita sering melihat kalender kepunyaan para seniman tradisional yang banyak ditanggap, seringkali dilingkari dengan tinta hitam.

Jika salah satu dari kedua belah pihak itu berhalangan atau ada suatu hal yang tidak diinginkan di luar kemampuannya, misalnya mendapat musibah (kecelakaan atau ada kerabat dekatnya yang meninggal) dan sangat tidak memungkinkan tanggapan itu dilaksanakan, maka kesepakatan itu bisa saja dibatalkan. Jika musibah itu menimpa pihak pertama (penanggap), maka ia akan segera menghubungi pihak yang ditanggap untuk membatalkan kedatangannya. Sebaliknya, jika musibah menimpa pihak yang ditanggap, maka ia akan menawarkan penggantinya. Ini pun selama pihak penanggap setuju atas pengganti yang diusulkan pihak yang ditanggap. Dalam hal-hal yang bersifat luar biasa seperti tersebut, biasanya kedua belah pihak akan melakukan kompromi untuk menjaga keharmonisan hubungannya dan agar pelaksanaan perhelatan tetap sukses.