Info

Judul : Nyandra

Penulis : Toto Amsar Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Nyandra

- Thu, Feb 21 2013 11:31:05


Nyandra adalah istilah yang terdapat dalam pedalangan Sunda, yang diberlakukan khusus untuk dalang. Artinya kurang-lebih sama dengan “mengucapkan” atau menarasikan suatu keadaan/adegan tertentu baik yang sedang, akan, dan sudah, terjadi dari sebuah lakon yang tengah dimainkan. Isinya biasanya narasi yang menggambarkan tentang keadaan kerajaan dan raja yang memerintahnya, padepokan dan resinya, wayang marah, wayang pergi atau datang, dan lain-lain. Bahasa yang dipergunakan biasanya campuran antara bahasa Sunda, Jawa (Cirebon) dan Kawi. Di dalam pedalangan Cirebon, istilah nyandra disebut ngertawara.

Nyandra diucapkan dengan dua cara, yakni naratif (tanpa diiringi gamelan/musik) dan  campuran antara naratif dan nyanyian. Akan tetapi, kalaupun nyandra itu tidak diiringi dengan gamelan, namun musikalitasnya tetap diperhatikan, bahkan tetap diberi patokan nada oleh nayaga—biasanya oleh beberapa penabuh—agar ucapan dalang tersebut tetap dalam tonasi gamelan. Di tengah-tengah nyandra, satu atau dua kalimat nyandra itu bahkan sengaja dilagukan.

Adapun patokan nada yang diberikan biasanya nada barang (1 atau da) dan bem atau galimer (4 atau ti), ditabuh beberapa kali sampai dalang selesai nyandra. Itulah sebabnya, mengapa intonasi nyandra selalu naik-turun, kadang-kadang bernada rendah, kadang-kadang bernada tinggi. Pengucapannya kadang-kadang lembat, kadang-kadang cepat.

Kalimat nyandra pada umumnya diucapkan secara improvisasi sesuai dengan maksud adegan yang akan atau tengah dilakonkan. Akan tetapi, ada pula nyandra yang ditetapkan keharusannya sesuai dengan pakem yang dianut dalam tradisi pedalangan. Nyandra tersebut biasanya dinarasikan untuk mengungkapkan tentang gambaran suatu tokoh tertentu.    

Salah satu contoh nyandra dalang Asep Sunandar Sunarya, pada jejer pertama yang menggambarkan tentang suatu keadaan di sebuah padepokan Pager Buana, sebagai berikut: 

 

Kacatur di salebeting padepokan, anu kasebat padepokan Pager Buana, kaayaan nyecep tiis hawa gunung, hejo lemboh dangdaunan, rajegna tatangkalan, cur-cor cai nu harerang, manuk gede, manuk leutik bur-ber nu ka kulon ka wetan, ka kidul ka kaler, kembang-kembang warna-warni dipapaes malar pantes, arca anu kenging ngukir ku para ahli, wajar ieu tempat diangge ngadidik pangarti, ngasah pangabisa.

Atuh teu kirang-kirang anu jauh pada cunduk anu anggang pada datang, nu caket pada kapurek ku ayana ieu elmu anu ngahaja dikaluarkeun ku Pandita Anom Kakasih Sriwenda. disarengan raina kakasih Wiralaga anu ti tatadi tungkul . . . narima sabda, ajrih ningali pamor ingkang raka, watek wantos resi anom Sriwenda manusa sakti mandraguna saciduh metu sakecap nyata weruh sadurung winarah. Gonira ngandika kawedaling lisan, mengkaten pengandikanipun . . .

 

Nyandra tersebut di atas merupakan campuran antara narasi yang hanya diucapkan biasa dan narasi yang dilagukan.

   Contoh lain, misalnya ketika dalang menggambarkan Raden Gatotkaca dan para pawongan yang tengah berada di tengah hutan, sebagai berikut:

 

Kacarios di satengahing alas wanawasa, Raden Gatotkaca kaiiring para pawongan sadaya, Semar Kudapawana, Astrajinga, Dawala, lan Nala Gareng. Nuju asruk-asrukan di leuweung ganggong simagonggong, lumampah los ka kaler, los ka kidul, mipir pasir mapay jungkrang, nete akar ngeumbing jangkar, henteu puguh nu dijugjug. Anu dipilari taya sanes anging Cupu Manik Astagina kanggo, sarat.

Raden Gatotkaca, dasar satria teuneung ludeung, gandang pertentang, angkat kadia merak ngibing sosoderan.

Sapamedalipun Raden Gatotkaca kepapag dening macan-macanan, bocah!

 

Ketika dalang mengatakan kata macan-macanan, para nayaga telah mafhum, bahwa kemunculan tokoh Gatotkaca tersebut harus diiringi dengan lagu Macan Ucul.  Dalam lagu itulah Gatotkaca muncul dan ditarikan.

Sejenis nyandra juga terdapat di dalam pertunjukan topeng Cirebon, yang disebut dengan ngertawara. Beberapa tari topeng yang memakai nyandra antara lain topeng Panji, Tumenggung dan Klana. Salah satu contoh nyandra topeng Klana gaya Subang atau topeng Jati (topeng Menor) yang ditranskrip dari rekaman pergelaran topeng Menor, sebagai berikut:

 

Kocapa kawonten dateng negara Blambangan, pamedalna Prabu Klana, jigrah-jigrah lir kadya wong edan kurang setan, medalna lir kadya jinonjing.

 

Seperti juga pada nyandra Gatotkaca di atas, ketika dalang pematang mengatakan jinonjing, para nayaga semua mafhum bahwa tari topeng tersebut harus diiringi dengan lagu Gonjing, yakni lagu khusus untuk mengiringi tari tersebut.

Di dalam pertunjukan topeng Cirebon, nyandra disebut dengan istilah ngertawara. Biasanya hanya terdapat pada beberapa tarian, antara lain topeng Panji, perang Tumenggung vs Jinggananom, dan topeng Klana.