Info

Judul : Arak-arakan

Penulis : Endo Suanda

Pustaka :

Sumber :

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Arak-arakan

- Thu, Mar 14 2013 16:48:52

Istilah yang biasa dipakai untuk menamakan suatu peristiwa kesenian atau "keramaian," yang terkait dengan suatu pesta perayaan. Arak-arakan selalu mengandung aspek berjalan, pawai, yang bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain. Sesuatu yang diarak adalah yang dibawa berjalan (keliling) dengan diramaikan atau ditonjolkan. Istilah lain yang memiliki arti serupa adalah karnaval (dari bahasa Inggris carnival). Dalam banyak tradisi, perayaan individual atau keluarga seperti khitanan dan pernikahan, biasa disertai arak-arakan. Demikian pula untuk perayaan upacara-upacara komunal, seperti bersih désa, sidekah bumi, pésta laut, ngarot, sekaten, tabuik, hari kemerdekaan, hari-jadi kota, dll.

Arak-arakan boleh dibilang acara yang paling meriah dari suatu rangkaian upacara, karena paling menampak pada publik, melibatkan partisipasi paling banyak orang, paling ramai, dan paling lebar jangkauan arealnya--karena bergerak atau berkeliling. Pelbagai penampilan bisa hadir dalam acara itu, mulai dari anak-anak dengan seragam sekolah, pegawai negeri dengan seragam Korpri, musik, tari-tarian, sulap, atraksi kocak, sampai pada demonstrasi kekebalan tubuh.

Tapi arak-arakan tidak sekedar ramai-ramai, atau senang-senang. Ia memiliki makna yang kompleks, yang timbul dari kesadaran ataupun bawah-sadar--karena itu tidak semuanya bisa ditebak dengan mudah apa "artinya." Ada yang sekedar senang-senang, turut bergembira meramaikan, ada yang menunjukkan kemakmuran, keberuntungan atau kemalangan kelompoknya, dan ada juga yang berupa sindiran kritis atau protes terhadap situasi sosial-politik.

Dalam arak-arakan, simbol-simbol yang muncul itu tidak mesti sejalan dengan upacaranya. Kritik sosial-ekonomi-politik bisa saja tampil pada arak-arakan yang merupakan bagian dari upacara keagamaan. Dalam upacara peringatan tahun baru China, umpamanya, terdapat orang yang ditandu dengan kekuatan "luar-biasa," seperti menusukkan benda tajam pada lidah, mengerat-kerat tubuh, dll, yang berbarengan dengan atraksi liong, barongsay, dsb. Seperti itu pula pada tabuik atau tabot di Sumatra, ogoh-ogoh di Bali, grebeg sekatén di lingkungan kraton Jawa, dan selamatan desa, laut, atau gunung yang terdapat di pelbagai pelosok Nusantara. Sifat sakral dan profan, individu dan sosial, kehalusan dan kekasaran, bisa tampil berbarengan dengan aman.

Berbeda dengan pertunjukan kesenian di panggung tertutup, dalam arak-arakan tak jelas batas antara yang yang mempertunjukkan dengan yang menonton. Simbol-simbol yang muncul pun ada yang berupa kenyataan sehari-hari (misalnya kelompok pemulung sampah, petani, pegawai negeri, darma wanita, siswa, mahasiswa, ataupun kaum santri), tapi ada juga hal-hal yang mustahil, seperti gunting rambut yang panjangnya lebih dari 1 meter, angkat besi 1 ton, dsb. Arak-arakan merupakan bagian dari ekspresi nonverbal, mengungkapkan sesuatu bukan dengan kata-kata, suatu yang alegoris. Seseorang bisa menampilkan dirinya "yang biasa" bisa juga yang "tak biasa" atau yang "sebaliknya." Untuk penampilan diri "secara lain" peserta arak-arakan banyak yang memakai topeng (masquerades) atau kostum dan rias yang aneh-aneh juga. Arak-arakan merupakan acara yang sepintas mungkin kelihatan "biasa" tapi sesungguhnya memiliki makna kompleks.

Pawai Pembangunan juga termasuk arak-arakan. Hanya saja, berbeda dengan arak-arakan di desa-desa, pawai seperti itu memiliki makna yang sangat jelas, eksplisit, karena dirumuskan oleh pihak berwenang untuk menampilkan "kemajuan." Ekspresinya menjadi steril, satu arah, satu prinsip: menampilkan "kemajuan" yang sering kurang berdasar pada realitas yang sebaliknya. Identitas yang muncul dalam pembangunan, adalah yang "dibuatkan," yang dalam dunia akademis disebut invented identity, bukan yang muncul secara natural dari pesertanya.