Info

Judul : Kemprongan

Penulis : Toto Amsar Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Kemprongan

- Tue, Feb 19 2013 14:00:51

 

 

Kemprongan adalah jenis kesenian tradisional yang tumbuh di daerah Kabupaten Kuningan, khususnya di Desa Sidaraja Kecamatan Ciawi Gebang dan Kecamatan Luragung. Kesenian ini sering disebut juga dengan Pesta (Fiesta, Belanda) yang artinya bersukaria. Jika dilihat dari penyajiannya, Kemprongan sangat mirip dengan tayub, atau boleh dikatakan sebagai tari tayub dengan memakai istilah lain. Di daerah Kuningan dan sebagian daerah Majalengka dan Ciamis, Tayuban juga seringkali disebut dengan Pesta (Fiesta). Istilah Kemprongan berasal dari kata “prung“ yang berubah konsonan menjadi “prong”. Kata prong diambil dari fonem kendang yang artikulasi bunyinya mirip dengan suara prong atau pong. Sakemprong diartikan sama dengan sakemprung, artinya sama dengan satu babak, atau satu lagu.

Seperti halnya Tayuban, Kemprongan juga diiringi oleh seperangkat gamelan berlaras salendro. Waditranya (alat musik) terdiri atas saron pambatek, saron   panempas, bonang, ketuk, gambang, kecrek, kendang, rebab dan goong. Dalam pertunjukan tersebut, terdapat penari wanita yang disebut dengan ronggeng. Pertunjukan ini akan berjalan dan hidup jika ada para penari laki-laki yang akan menjadi pasangan penari wanita. Oleh sebab itu, kehadiran penari laki-laki menjadi sangat vital adanya dan keberadaannya sangat tergantung dari kehadiran para penonton. Para penonton laki-laki itulah yang turut menghidupkan pertunjukan ini.

Penyajiannya dimulai dengan musik (gamelan) instrumental yang disebut dengan tatalu, yakni penyajian lagu-lagu yang ditujukan untuk mengumpulkan para penonton. Lagu-lagunya antara lain Kajongan, Dodoran, dan Barlen.

Seni tersebut berkembang sekitar abad ke-19 dan mulai memudar pada awal tahun 80-an. Tokoh-tokohnya sudah banyak yang meninggal dunia seperti Nyi Angkuni, Sasmita, Wiriadisastra, dan Nyi Arsita. Tokoh-tokoh sebagai penerusnya masih memiliki garis keturunan dengan para pendahulu kesenian tersebut, antara lain Andi dan Upen serta kerabatnya. Kini, kesenian tersebut dihidupkan kembali melalui program Pewarisan Seni Tradisional oleh Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.