Info

Judul : Kembang Gadung

Penulis : Pandi Upandi, S,Kar., M.Sn./Toto Amsar Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Kembang Gadung

- Tue, Feb 19 2013 13:59:37

 

Kembang Gadung adalah nama sebuah lagu tradisional Sunda yang sering dinyanyikan para ­sinden dalam berbagai perttunjukan. Dilihat dari segi bahasa, kembang artinya bunga, gadung adalah sejenis ubi-ubian beracun dan tidak bisa dimakan langsung. Ubinya baru bisa dimakan setelah racunnya dihilangkan setelah melalui proses pencucian dan perendaman. Tanaman ini termasuk tanaman merambat yang tumbuh di musim hujan. Berkaitan dengan kata gadung, dalam bahasa Sunda dikenal ungkapan: siga jalma weureu gadung, artinya seperti orang mabuk.  

Syair lagu Kembang Gadung, sama sekali tidak ada hubungannya dengan fisik bunga gadung dan tidak pula menceritakan realitas bunga tersebut. Lagu tersebut isinya bertemakan tentang pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa atau penghormatan kepada nenek moyang, mengajak melestarikan seni budaya,  dan menghibur penonton. Lagu ini biasanya sering digunakan sebagai lagu pembuka suatu pergelaran kesenian Wayang Golek, Kiliningan, Bajidoran, Bangreng, Ketuk Tilu, dan sebagainya. Di beberapa tempat dan oleh sebagian kelompok kesenian, lagu tersebut dianggap sebagai lagu sakral yang difungsikan sebagai do’a untuk mengawali pertunjukan. Misalnya dalam ronggeng nayub di daerah Purwadadi, Kabupaten Subang, sebelum lagu Kembang Gadung dilantunkan, terlebih dahulu dukun membaca mantra sambil membakar kemenyan. Sementara itu, sesaji yang terdiri atas berbagai makanan, minuman dan macam-macam bunga terasa menambah suasana magis. Pada waktu itulah lagu Kembang Gadung mulai dinyanyikan. Dalam ritus Ketuk Tilu Mapag Hujan, di Sirap dan di Kampung Tanjung, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, lagu tersebut juga dinyanyikan paling awal sebagai lagu persembahan.

Bagi masyarakat Kabupaten Subang, lagu tersebut mempunyai kisah tersendiri. Diceritakan, bahwa pada masa penjajahan Belanda, ada seorang pengikut Bagusrangin, Lapidin namanya. Ia berjuang melawan penjajahan dan dalam perjuangannya, ia bersembunyi di hulu sungai Cigadung. Di sepanjang  sungai tersebut tumbuh tanaman gadung, merambat ke berbagai pohon. Di balik rambatan tanaman itulah ia bersembunyi. Tanaman tersebut menginspirasinya untuk membuat lagu yang kemudian diberi judul lagu Kembang Gadung. Kisah lain menyebutkan, bahwa Lapidin adalah seorang perampok dan penggemar Ketuk Tilu. Hasil rampokannya senantiasa dibagikan kepada rakyat miskin. Suatu saat ia dikhianati salah seorang temannya dan dilaporkan kepada Belanda. Karena ia dianggap penjahat yang selalu meresahkan masyarakat, ia kemudian dibunuh. Dalam keadaan sakaratul maot, ia minta dinyanyikan lagu Kembang Gadung yang oleh sebagian orang dianggap sebagai lagu ciptaannya. Lagu tersebut kemudian dilantunkan dan Lapidin pun meninggal.   

Lagu tersebut kemudian menjadi mitos dan disakralkan, bahkan sampai kini, masyarakat setempat enggan meninggalkan kebiasaan tersebut, seolah-olah merasa pamali apabila lagu tersebut tidak dinyanyikan terlebih dahulu. Hanya saja penyajiannya tidak lagi dalam bentuk ritual, akan tetapi hanya sebagai nyanyian biasa.

Perkembangan berikutnya, beberapa seniman mengaransir lagu tersebut dengan komposisi yang baru (wanda anyar). Misalnya Mang Koko, mengaransir lagu Kembang Gadung dengan menggunakan iringan kacapi, rebab, kendang, dan goong serta cara menyanyikannya tidak seperti halnya sinden wayang golek. Demikian pula beberapa mahasiswa ASTI/STSI Bandung, mengaransir lagu tersebut untuk kepentingan ujian akhirnya.

Isi lirik lagu Kembang Gadung pada dasarnya mengandung empat hal: (1) Memuji Tuhan Yang Maha Esa (2) Mensyukuri nikmat Allah (3)  Penghormatan kepada para leluhur (karuhun) (4) Persembahan kepada para penonton. Berikut beberapa syair lagu tersebut.

 

1.      Bismilah bubuka lagu

muji sukur ka Hyang Agung

sumembah ka sang karuhun

sumujud ka Batara Agung           

neda widi neda amit

ka Gusti Nu Maha Suci

mugi diaping dijaring

neda pangraksa pangriksa

 

sareng ka para karuhun

nyanggakeun ieu pangbakti duh Gusti

ulah bade hiri dengki

duh alah . . .

kembang gadung nu kahatur

nyanggakeun ieu pangbakti

pangbakti ti seuweu-siwi

 

2.      Kembang gadung ruruntuyan

estu endah koneng enay

meulit dina tatangkalan

bijil cucuk dina areuy

anu bisa jadi tameng

ngajaga kasalametan

 

Gelarna mahluk ka dunya

anging kersa Maha Suci

dijaga rawuh diraksa

umumna sadaya mahluk

nu jadi ciptaana-Na

geura prak sarujud sukur

tasyakur ka Maha Agung

ibadah ka Maha Esa