A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

Tikar Media
Info

Judul : Ajeng Karawang - Gamelan

Penulis : Endo Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Ajeng Karawang - Gamelan

- Mon, Feb 25 2013 11:44:40

Ajeng Karawang adalah salah satu ensambel gamelan yang terdapat di daerah budaya Betawi. Waditra (instrumen)-nya umumnya terdiri dari bonang; saron (metalofon, dua set), demung (metalofon, satu oktaf lebih rendah daripada saron), satu atau dua buah goong, kempul; bende (gong lebih kecil; kecrek; beberapa buah gendang, ketuk (empat buah gong kecil berpencu), gambang (sylofon) dan tarompet.

Tarompét yang berfungsi sebagai instrumen pemimpin melodi (selain bonang), adalah alat yang paling membedakan dengan jenis gamelan Sunda lainnya, termasuk dengan ensambel ajéng di Sumedang. Dengan adanya tarompét ini, ajéng memiliki energi yang keras (“gaduh”), sehingga ia cocok sebagai ensambel untuk ruang terbuka (out door). Selain di Kabupaten Karawang, ajéng serupa ini pun terdapat di Kabupaten Bogor, di Kecamatan Cileungsi.

Ajéng Karawang-Bogor umumnya tampil sendirian, menampilkan musik instrumental untuk acara kekeluargaan dan perayaan-perayaan desa. Ajéng juga mengiringi tari topéng (sampai tahun 1980-an masih terdapat di Cileungsi) dan ada yang digunakan untuk mengiringi wayang Betawi.

Pertunjukan ajéng dalam suatu pesta perayaan (di Karawang) biasanya mulai malam hari, berlangsung sepanjang malam hingga hari berikutnya siang dan malam. Pada umumnya gamelan itu diletakkan di atas sebuah panggung yang tingginya mencapai dua meter atau lebih, karena itu umumnya tamu undangan ataupun bukan undangan tidak bisa melihat para musisinya yang main pada ketinggian itu. Ajéng dimainkan selama acara selamatan berlangsung tapi dengan banyak istirahat dari waktu ke waktu.

Repertoar besar ajéng dibagi atas beberapa kelompok, menurut jenis melodi dan struktur atau bentuk komposisinya. Lagu-lagu dari setiap kelompok itu banyak yang dimainkan hanya pada saat-saat tertentu saja. Suatu kelompok lagu, ada juga yang hanya ditampilkan pada malam kedua. Tapi, ada suatu lagu yang pokok, yang dimainkan pada setiap awal mulainya pertunjukan adalah lagu Cara Bali.

Secara melodik, dalam ajéng terdapat sistem modal (surupan, mode, patet) yang disebut patut: patut patbelas menggunakan semua tujuh nada, dan patut sepuluh yang hanya menggunakan lima nada saja. Patbelas dan sepuluh, berkaitan dengan jumlah pencon (gong-kecil berpencu) pada waditra bonang yang digunakan. Patut patbelas memakai 14 pencon, dan patut sepuluh menggunakan 10 pencon. Selain itu, dalam setiap patut terdapat kelompok-kelompok lagu, seperti rancag, gambangan, dan lain-lain.

Dalam patut patbelas, terdapat dua bagian yang disebut patut rancag (atau rancagan) dan patut Betawi (atau Batawian). Keduanya menggunakan tujuh nada (heptatonis), sehingga bisa memainkan lagu Batawian, seperti lagu-lagu Melayu dan keroncong, atau bahkan lagu-lagu populer lainnya. Sedangkan pada kelompok patut sepuluh terdapat pula patut singgul dan patut langbong yang mirip laras pélog dan madenda (sorog), lima-nada dengan nada-setengah, serta patut lempeng yang seperti saléndro, yaitu lima nada tanpa nada-setengah. Dari keseluruhan repertoar ajéng Karawang, secara umum nama-nama lagunya mirip atau familiar dengan nama lagu Sunda. Istilah “patut” sama dengan yang biasa dipakai di Cirebon. Namun, gaya main ajéng Karawang berbeda sekali dengan gamelan Sunda ataupun Cirebon.