Info

Judul : Eutik Muchtar

Penulis : Pandi Upandi, S.Kar., M.Sn.

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Eutik Muchtar

- Tue, Feb 19 2013 13:25:54

Eutik Muchtar lahir pada tanggal 21 Desember 1928 di Desa Cinunuk, Kecamatan Ujung Berung, Kabupaten Bandung. Ayahnya, Suryadinata seorang juru rebab, dan ibunya, Emeh seorang ibu rumah tangga biasa.  Kakaknya, Yos Sukarnas adalah juru kacapi yang terampil menyanyikan lagu-lagu kepesindenan. Adiknya ada tiga orang yakni Mar’ah, Ros, dan Juju (sindén). Ia meninggal dunia pada tanggal 27 Juli 2007 dan dimakamkan di Kabupaten Subang.

Sejak kecil ia sudah biasa mendengarkan rebab terutama sewaktu ayahnya berlatih di rumah. Pada waktu itu, kecintaannya terhadap seni Sunda mulai tumbuh. Ia sering menonton pertunjukan wayang golek baik di desa, maupun di desa tetangganya bersama teman-teman sebayanya. Dalang yang dikaguminya adalah Suarta dari Cinunuk dan Takrim dari Cibiru.

Menginjak usia remaja, Eutik Michtar sering menonton wayang golek dengan dalang berbeda-beda antara lain; dalang Elan Surawisastra dari Gumuruh, dalang Entah dari Bogor, dan dalang Taryat dari Gandasoli. Adapun sinden-sinden yang sering tampil dalam pertunjukan wayang golek tersebut antara lain Arnesah istri dalang Partasuanda, Idah istri dalang Suhaya Atmaja, dan Epon istri dalang Soma.

Eutik Muchtar tidak puas hanya sebagai penonton, tetapi ingin aktif menjadi nayaga (musisi) sebagaimana ayah dan kakaknya. Keinginan itu direalisasikan dengan belajar kawih diiringi kacapi kepada Yos Sukarnas, kakaknya. Lagu-lagu yang dipelajari adalah kawih tradisi. Sekitar umur 18 tahun Eutik Muchtar sudah bisa menyanyi lagu-lagu tradisi. Keterampilan menyanyi menambah semangat bagi Eutik Muchtar untuk merambah belajar rebab mengikuti jejak ayahnya. Selanjutnya ia belajar rebab kepada Uli Surahman, Jarkasih, Jasik, dan terakhir belajar kepada Saikum. Ia kemudian mendirikan grup kesenian (Lingkung Seni) Puspa Warna yang secara berkala ikut mengisi siaran kiliningan dan wayang golek di RRI Bandung.

Eutik Muchtar termasuk juru rebab berbakat turunan dari ayahnya, Suryadinata. Pada tahun 1952 ia mulai ikut pertunjukan wayang golek sebagai juru rebab di siang hari. Mulai tahun 1953 baru diperbolehkan oleh gurunya menjadi juru rebab pertunjukan wayang golek pada malam hari bersama dalang Suarta. Sejak itu sampai tahun 1970-an, nama Eutik Muchtar sangat terkenal sebagai juru rebab yang kreatif, bersama grup wayang golek dalang Takrim, Suhaya Atmaja,  Elan Surawisastra, Entah, Taryat, Partasuanda, Soma, Udin, Ajat Sudrajat, Sumpena, dan terakhir yang paling lama ialah dengan dalang Nandang Rusman Barmaya dari Banjaran, Kabupaten Bandung. Adapun sinden-sinden yang pernah pertunjukan bersama Eutik Muchtar antara lain: “Gagak” istri dalang Mama Takrim, Emeh istri dalang Elan, Arnesah istri dalang Partasuanda, Idah istri dalang Mama Suhaya, Epon istri dalang Soma, dan Kartini istri Adis, seorang juru rebab.

Para seniman, khususnya nayaga, banyak yang mengagumi kesetan rebab Eutik Muchtar, sehingga banyak  yang berguru  rebab kepada Eutik Muchtar.  Mereka antara lain: Acun Muhtar (Ciamis), Ayut (Bandung), Asep Mulyana (Bandung), Caca Sopandi (Bandung) dan Ojay (Bandung). Selain sebagai guru rebab, ia juga adalah guru sinden. Mereka yang belajar kepesindenan antara lain: Aan Darwati (Kadipaten), Cucun Cunayah (Tanjung Salep, Subang), Dedeh Winingsih (Kosambi, Karawang), Elah Hayati (Bandung), Emi Sumiati (Karawang), Engkar Suarsih  (Kotabaru, Karawang), Imik Suarsih  (Bandung), Iyar Wiarsih  (Bandung), Ucit Tin Suhartini (Rancabogo, Subang), Utik Sumiarsih (Rancabogo, Subang), dan Umay Mutiara  (Koranji, Subang).

Ia juga memiliki dasar yang kuat tentang komposisi musik dan oleh sebab itu banyak lagu yang telah diciptakannya. Lagu-lagu yang diciptakannya diilhami oleh situasi sosial politik yang terjadi pada masanya. Misalnya, pada tahun 1951 Eutik Muchtar menciptakan lagu pertama yang diberi judul Bintang Gerilya. Lagu ini diilhami oleh pengalamannya saat Eutik Muchtar ikut perang gerilya berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia bersama-sama Tentara Nasional Indonesia (TNI). Lagu tersebut menjadi populer karena sering dinyanyikan oleh sinden Upit Sarimanah dalam pergelaran wayang golek. Kemudian pada tahun 1948 ia ikut hijrah ke Yogyakarta bersama tentara Siliwangi bergabung dengan batalyon Riva’i. Selanjutnya pemerintah memberi penghargaan berupa tanda jasa “Bintang Gerilya” yang diterimanya pada hari “Pahlawan” tanggal 10 Nopember 1949 di Buah Dua Sumedang. 

Eutik Muchtar juga sangat peka terhadap kondisi sosial-kemasyarakatan, misalnya terhadap banjir dan tanah longsor yang mengakibatkan kesengsaraan penduduk. Kejadian tersebut mengusik rasa kesenimanannya, sehingga pada tahun 1952 ia menciptakan lagi lagu kedua yang diberi judul Bencana Alam dan syairnya dibuat oleh Emik. Selanjutnya ia menciptakan lagu bersama orang lain, antara lain dengan Undang Suarna (juga seorang pencipta lagu), dan Supriatna (penyair). Lagu hasil ciptaan bersama tiga orang itu ditulis dalam buku kawih milik sinden Engkar Suarsih dengan diberi ciri “Emus”, singkatan dari Eutik Muchtar, Undang Suarna, dan Supriatna. Lagu Sari Kancana diciptakannya di Karawang saat ia tengah mengadakan pertunjukan selama berhari-hari dan tidak sempat pulang ke Bandung.

Tercatat sebanyak 93 lagu yang diciptakannya, antara lain: Abdi Ngiring, Ambon Sorangan, Amanat Bersatu, Amis Budi, Arisan, Badaya Kreasi, Banjar Jumut Caang Bulan, Banjaran Kreasi, Begér Mindo, Bencana Alam, Beunghar Korét, Bintang Gerilya, Cageur Bageur, Cala-culu, Caringcing, Cénderawasih, Dara Ayu, Dikantun  Mulang, Dinyenyeri, Galak Timuru, Gegeringan, Gendu Kréasi,  Gogoda, Istri Panarahan, Istri Sajati, Jajaka Mangkat Birahi, Jalir Jangji, Kabungbulengan, Kagémbang, Kasmaran, Kawitan Kréasi, Kembang Dayang, Kolényay, Lalagasan, Lalaki, Lara-lara Kreasi, Leungiteun Kakasih, Leungiteun Panutan, Kulu-kulu Bem Kréasi, Kulu-kulu Gancang Kréasi, Leumpeuh Yuni, Mapay, Raratan, Mawar Lumayung, Milih Rabi, Mojang Léngér, Mulang ka Asal, Nambah Sénggot Badaya, Nambah Sénggol Kulu-kulu Bem, Napsu nu Matak Kaduhung, dan lain-lain.

 

Penulis: Pandi Upandi, S.Kar., M.Sn.

Keyword: Jawa Barat; Subang; Bandung; Cinunuk; Ujung Berung; Wayang Golek; Puspa Warna; Rebab; Eutik Muchtar.