Info

Judul : Dareuda

Penulis : Endo Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Dareuda

- Tue, Feb 19 2013 13:19:42

Dareuda adalah nama salah satu lagu Sunda yang diciptakan dalam pertengahan abad dua puluhan, dan cukup popular  hingga kini. Ada dua lagu yang berjudul “Dareuda.” Pertama, lebih bersifat tradisional, dan yang kedua lebih menonjol pembaharuannya.

Yang  pertama, yang  lebih tradisional itu, bukan saja Karena penggunaan lirik  bahasa Sunda dan nada lagunya (pélog degung, pentatonik), melainkan juga pada bangunan irama keseluruhannya, seperti posisi kenongan dan gongan dalam gamelan—oleh karena itu lagu ini bisa dimainkan dalam pelbagai ensemble: kliningan (gamelan), degung, kacapi-suling, serta tentu saja dalam gaya musik yang lebih baru “wanda anyar.”

Lagu ini termasuk dalam kategori kawih, yaitu yang memiliki ketukan tetap (sekartandak, konstan) dan dengan birama genap yang cocok dengan posisi kenong-kempul-gong dalam kelompok lagu gamelan yang paling umum, yaitu rérénggongan. Susunan nada kenongan-nya sederhana, hanya satu nada gong (“tonika”)  dan satu nada kenong (“dominan”) di tengah-tengah gongan—yang diberi tanda “N” dan ”G” dalam notasi di bawah, yang berarti “kenong” dan “gong.”

Pada gamelan saléndro, Dareuda dimainkan dalam lagu Gendu atau Macan Ucul, yang dalam notasi daminatila Machjar Angga Kusumadinata sebagai berikut: 

                                       N                                      G

||   -   -   -   5    -   -   -   1     -   -   -   5     -   -   -   4 ||

 

Sedangkan dalam ensambel degung, yang cocok untuk lagu Dareuda ini adalah lagu Catrik:

|    -   -   -   3    -   -   -   2     -   -   -   3     -   -   -   5 ||

 

Dalam struktur (gending) rérénggongan, iramanya dua wilet, yaitu 8 ketukan perbirama atau 32 ketukan untuk satu siklus  gong. Maka, lagu Gendu dua wilet itu hubungan ketukan (32) kenong, kempul, dan gong akan tampak seperti di bawah in:

 

P           N                P               NP              PN                P               G

||   -   -   -   -   -   -   5    -   -   -   -   -   -   -   1     -   -   -   -   -   -   -   5     -   -   -   -   -   -   -   4 ||

 

Kebanyakan orang  mengakui bahwa lagu Dareuda ini diciptakan oleh Siti Rokayah (yang lebih dikenal dengan Ibu Haji, almh), yaitu seorang tokoh musik Sunda kondang (terkenal) pada 1950-1980-an, yang tinggal di Gang Madurasa (Jalan Mohamad Toha), sekampung dengan Pak Adis (almarhum), yang juga seorang seniman dan pembuat alat musik Sunda kondang. Ibu Haji amat terkenal dalam dunia tembang Sunda, selain karena kepiawaiannya, juga karena (waktu tu) amat jarang perempuan yang bisa main kacapi dan meniup suling secara profesional.

Dareuda, awalnya disusun sebagai lagu panambih dalam tembang Sunda (Cianjuran), tetapi kemudian lagu ini populer pula dimainkan dalam ensambel lain, terutama degung. Lagu ini lebih terasa memiliki ekspresi yang lebih dekat dengan lagu-lagu tembang Sunda ketimbang misalnya dengan lagu-lagu sindén  dalam  gamelan. Dengan kontur melodi yang  jelas  (tetap), partitur yang  pas, dan irama yang menentu, lagu ini lebih mudah diterima dan dipelajari untuk kalangan pelajar dan mahasiswa, atau grup-grup kesenian kota, dibanding  dengan lagu-lagu gaya sindénan yang banyak gaya individualnya, penuh improvisasi dengan variasi-variasi spontan.

Syair lagu Dareuda juga memakai pola syair tradisional Sunda, sisindiran—serupa pantun Melayu, kuplet (4 baris), masing-masing baris 8 suku-kata, 2 baris pertama sampiran atau cangkang (“kulit”) dan dua baris terakhir adalah “isi”-nya, yang murwakanti (rhyme) dengan 2 baris pertamanya. Karena itu, lagu ini secara teknis sesungguhnya bisa dinyanyikan dengan memakai syair sisindiran apapun. Berikut adalah contoh syair yang sering dinyanyikan:

Kumasuling kumasuling,

suling teh ngan silung bae,

kuma kuring-kuma kuring,

kuring teh ngan bingung bae

Adapun lagu Dareuda yang kedua, komposisi musiknya lebih baru. Melodinya memang sama pentatonik (pélog) dan syairnya bahasa Sunda, namun berbeda sifatnya dari pola lagu tradisional seperti halnya Dareuda pertama. Karena itu pula, mungkin, lagu Dareuda kedua ini lebih banyak dimainkan dalam  ensemble musik  baru, modern-pop, dan dibawakan oleh para penyanyi yang lebih “ngepop” pula, seperti Hetty Koes Endang, sehingga Dareuda yang syairnya diciptakan oleh Amir  Hamidin pun tidak kurang populernya.