Info

Judul : Cangkedong

Penulis : Toto Amsar Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Cangkedong

- Tue, Feb 19 2013 12:58:20

Cangkedong (sebutan yang berlaku di Ciamis Utara) adalah wadah makanan tradisional yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Di daerah lain, seperti Kampung Adat Dukuh dan Kampung Adat Cikondang misalnya, disebut kontrang dan kisa. Wadah tersebut hanya dibuat dan dipakai sewaktu-waktu dan untuk keperluan-keperluan tertentu, misalnya dalam upacara adat tradisional seperti wuku taun, suroan¸ dan sebagainya.

Cangkedong dibuat dari beberapa lembar daun kelapa, empat sampai enam lembar, kemudian dianyam mirip dengan anyaman tikar. Bentuknya menjadi segi empat dan setiap ujung dan pangkalnya yang tidak teranyam kemudian diikat dan dipotong. Setelah itu, baru nasi dan lauk-pauknya diisikan.

Pada masa lalu, di daerah Cinyasag, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, wadah tersebut dipergunakan untuk acara maleman pada bulan Puasa, yakni pada tanggal 20-an ganjil (21, 23, 25, 27, 29). Pada tanggal-tanggal tersebut, setiap umpi yang ada di lingkungan mesjid harus mengadakan sedekah dengan membuat cangkedong yang diisi nasi dan lauk-pauknya, kemudian dibawa ke mesjid dan dibagikan kepada setiap orang setelah selesai shalat tarawih. Makna dari sedekah itu tiada lain untuk menyambut malam lailatul qadar yakni malam diturunkannya Al Quran. Malam tersebut di kalangan umat Islam disebut pula dengan malam seribu bulan, yakni malam yang jika melakukan amal ibadah pahalanya setara dengan ibadah seribu bulan. Akan tetapi, seiiring dengan perkembangan zaman, kebiasan tersebut kini telah hilang.