Info

Judul : Asyura

Penulis : Genik Puji Yuhanda

Pustaka : Bara, Antoine. 2009. Husain Dalam Kristianitas Pewaris Yesus. Jakarta: Citra. Itrah. 2012. Janga

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Asyura

- Tue, Feb 19 2013 12:23:00


Asyura adalah peristiwa yang terjadi tanggal 10 Muharam dan diperingati oleh beberapa kelompok masyarakat, baik yang ada di Indonesia maupun di wilayah Asia lainnya, seperti di Afghanistan, Pakistan, Lebanon, Iran, dan Irak. Di Indonesia, pada bulan dan tanggal tersebut, terjadi beberapa peristiwa ritus unik yang dilakukan oleh beberapa golongan masyarakat dengan berbagai sebutannya seperti Asyura, bubur suro, suroan, seren taun, wuku taun, dan sebagainya. 

Ritus-ritus pada bulan Muharam yang dilakukan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, intinya adalah slametan atau memberikan sedekah yang diyakini sebagai bentuk ibadah. Misalnya, mereka membuat bubur sura yang terbuat dari tepung beras dicampur santan, dan diisi berbagai bahan makanan. Bubur tersebut warnanya merah dan putih. Pesan dibalik tradisi ini jelas. Bubur yang berwarna putih, menandakan hari Asyura yang suci, sedangkan berbagai macam bahan makanan yang terdapat dalam bubur menjadi simbol berbagai kejadian pada hari yang sedang diperingati.

Bubur sura di Cirebon hanya ada satu macam warna yakni putih. Bubur sura tersebut bermakna kesucian bulan Muharam. Adapun tradisi yang dilakukan di Aceh, yakni dikenal dengan sebutan kanji Asyura, bubur yang dibuat terdiri dari dua macam warna, yakni merah dan putih. Merah melambangkan darah Imam Husain, Cucu Nabi Muhammad Saw, dan keluarganya yang tumpah di Karbala, Irak. Merah juga melambangkan keberanian pasukan Imam Husain melawan penguasa yang zalim. Sedangkan putih melambangkan kesucian diri dan perjuangan Imam Husain melawan segala bentuk perbuatan zalim. Bubur sura di Cirebon, dan tradisi kanji Asyura di Aceh biasanya diberikan kepada sanak keluarga terdekat, tetangga, kaum fakir dan miskin.

Di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatera Barat, ada upacara tradisi hoyak tabuik (tabut). Upacara mengarak tabut atau keranda itu adalah perlambang dari keranda jenazah Imam Husain yang syahid di Padang Karbala. Upacara tersebut dimulai dari hari pertama bulan Muharam hingga hari kesepuluh. Di wilayah Asia, misalnya di Afghanistan peringatan Asyura dilakukan dengan menyakiti diri, yakni memukuli dada sebagai ungkapan kepercayaan mereka pada kesyahidan Imam Husain. Bahkan beberapa dari mereka melukai dirinya dengan memukuli punggungnya dengan rantai berduri.

Di Indonesia, pada bulan Muharam, selain masyarakatnya memperingati tahun baru Islam dengan suka cita, juga terdapat kelompok masyarakat yang memperingati peristiwa Asyura dengan duka cita. Kelompok tersebut berasal dari kalangan Islam Syiah yang memperingati peristiwa Asyura dengan meratapi dan menangisi kematian Imam Husain, Cucu Nabi Muhammad Saw, yang terbunuh di Padang Karbala, Irak. Berbeda dengan masyarakat Syiah di Afghanistan, kelompok Syiah di Indonesia memperingati peristiwa Asyura tidak menyakiti diri, seperti memukul punggung dengan rantai berduri atau memukul kepala dengan pedang.

Asyura, dalam perspektif Islam Syiah merupakan tragedi memilukan yang menimpa keluarga Nabi Muhammad Saw, yakni Imam Husain yang dibunuh di Padang Karbala, Irak, tepatnya pada hari ke-10 bulan Muharam. Muslim Syiah menjadikan peringatan Asyura sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan terhadap keluarga Nabi Muhammad Saw. Selain itu, mereka menjadikan peringatan Asyura sebagai momentum untuk melawan setiap bentuk penindasan para penguasa zalim. Hal itu dilakukan atas perjuangan Imam Husain dalam mempertahankan nilai-nilai mulia, sunah Nabi Saw, meskipun dirinya rela menjadi martir dalam pertempuran melawan penguasa zalim. Imam Husain melakukan itu semua demi tegaknya Islam yang berlandaskan ajaran-ajaran kebaikan, menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, serta pengayom orang-orang tertindas.

Peristiwa Asyura dijadikan oleh tokoh-tokoh Islam maupun tokoh dunia lainnya sebagai pelecut semangat dalam menegakkan kebenaran dan keadilan terhadap penguasa atau pemerintahan yang bertindak sewenang-wenang. Para tokoh tersebut di antaranya ialah Sunan Kalijaga yang menjadikan momentum Asyura untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi Indonesia.

Asyura merupakan bagian dari sejarah umat manusia yang di dalamnya terdapat dua kutub yang membedakan satu sama lain. Kutub yang pertama, adalah para penegak keadilan, yaitu Imam Husain dan pengikutnya. Kutub yang kedua adalah para penguasa yang bertindak tidak adil dan berlaku semena-mena terhadap rakyatnya, yakni Yazid beserta pengikutnya. Sejarah Asyura menjadi penting karena ia merupakan miniatur konflik kehidupan manusia ketika harus menentukan ideologinya. Peristiwa Asyura dijadikan momen penting oleh umat manusia sebagai pembeda atau pemisah antara kebenaran dan kejahatan (hak dan batil). Perlawanan yang dikobarkan Husain bin Ali merupakan suatu hikayat kebebasan yang dikubur hidup-hidup oleh pisau kezaliman pada setiap zaman dan tempat. Hal itu terjadi ketika pemimpin yang zalim tidak menegakkan neraca keadilan, kemerdekaan manusia, dan tidak memelihara serta melaksanakan janjinya. Oleh sebab itu, hakikat kemerdekaan, di bawah bendera dan di balik akidah apa pun mereka berlindung, menjadi tidak terjamin.