A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

Tikar Media
Info

Judul : Asmarandana

Penulis : Toto Amsar Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Asmarandana

- Tue, Feb 19 2013 12:19:35

Asmarandana adalah salah satu pupuh dari 17 pupuh. Syairnya mempunyai ketentuan khusus yang diatur berdasarkan jumlah baris yang disebut padalisan. Panjang setiap baris diatur berdasarkan jumlah suku kata yang disebut guru wilangan, demikian pula huruf hidup di ujung kata yang disebut guru lagu, juga ditentukan bunyinya. Ketetuan tersebut merupakan rumus yang harus dipatuhi. Rumus tersebut bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut:

 

No

Padalisan 

Guru Wilangan

Guru Lagu

1.

Kesatu

8 suku kata

i

2.

Kedua

8 suku kata

a

3.

Ketiga

8 suku kata

é atau o

4.

Keempat

8 suku kata

a

5.

Kelima

7 suku kata

a

6.

Keenam

8 suku kata

u

7.

Ketujuh

8 suku kata

a

 

Pupuh ini biasanya dipakai untuk menggambarkan berbagai bermacam situasi, misalnya tentang kasmaran, pemandangan alam, nasihat, atau suatu keadaan tertentu tergantung pada apa yang ingin diungkapkan oleh pengarangnya. Dalam naskah-naskah lontar Bujangga (Macapat) di Indramayu dan Cirebon, pupuh Asmarandana disebut Kasmaran

Setiap pupuh juga digunakan untuk menceritakan suatu cerita tertentu yang bentuknya berupa naskah (di Indramayu disebut lontar) seperti Wawacan, Macapat/Bujangga, atau Gending Karesmen. Ceritanya bisa tentang wayang, sejarah, legenda, babad, dan lain-lain. Beberapa contoh naskah di antaranya: Babad Dermayon, Babad Cerbon, Wawacan Purnama Alam, Wawacan Ciung Wanara, Wawacan Bharata Yudha, Nabi Yusuf, dan lain-lain. Sedangkan naskah dalam bentuk gending karesmen antara lain Lurtung Kasarung karya R.A.A. Wiranatakusumah. Selain itu, pupuh juga sering digunakan untuk suatu lagu dalam tembang Sunda. Dalam kaitannya dengan kurikulum di sekolah umum, pupuh dijadikan sebagai bahan ajar muatan lokal seni budaya.

Beberapa contoh pupuh dapat diikuti di bawah ini:

 

Eling éling mangka éling

rumingkang di bumi alam

darma wawayangan baé

raga taya pangawasa

       lamun kasasar lampah

       napsu nu matak kaduhung

       badan anu katempuhan

 

Dalam tembang Sunda Cianjuran, istilah “Asmarandana” bisa juga berarti lagu, seperti: Asmarandana dalam wanda dedegungan) atau Asmarandana Rancag (dalam laras sorog).