A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

Tikar Media
Info

Judul : Antawacana

Penulis : Toto Amsar Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Antawacana

- Mon, Feb 25 2013 12:56:21

 

Antawacana adalah salah satu istilah yang terdapat dalam pedalangan yang peranannya sangat penting. Istilah tersebut mempunyai pengertian sebagai cara membedakan suara tokoh wayang yang satu dengan tokoh wayang yang lainnya. Oleh sebab itu, bagi seorang dalang wayang, gaya bicara dan intonasi setiap wayang itu mutlak untuk dibedakan. Semua perbedaan antawacana senantiasa mengacu pada beberapa hal, antara lain: karakter, jender, situasi dan kondisi wayang yang tengah dimainkan, dan lain-lain. Semua pembeda itu pun mengacu pada pakem, misalnya gaya bicara tokoh wayang yang berkarakter halus (Samiaji, Arjuna, Abimanyu, Rama, misalnya), biasanya menggunakan intonasi yang halus pula dengan irama bicara yang lamban serta pada nada yang rendah. Dalam pedalangan, gaya bicara wayang tersebut dikenal dengan istilah leuleuy keudeu. Ketika wayang tersebut akan mulai berbicara, dalang sudah memperingatkan dirinya sendiri yang biasanya diungkapkan dalam nyandranya. Untuk karakter tersebut dia akan berkata: pangandikanipun Raden Arjuna, suantena aris manis, leuleuy keudeu . . . Demikian pula wayang yang berkarakter ladak (lincah), intonasinya lantang dan gaya bicaranya diibaratkan seperti babasan (ungkapan bahasa): capetang, jiga kacang ninggang kajang. Kresna, Karna, Narasoma, Wibiksana, adalah contoh wayang yang bicaranya seperti tersebut.

Demikian halnya dengan wayang yang berkarakter gagah (Bima, Gatotkaca, misalnya), antawacananya akan diibaratkan dalam ungkapan bahasa seperti: gerem-gerem kadya macam mapag baya. Artinya, suaranya menggeram seperti macan menghadapi bahaya.

Begitu pentingnya antawacana bagi dalang, sehingga ia tidaklah cukup hanya dengan mengekspresikan wayangnya dengan gerakan-gerakan  (sabet), akan tetapi juga dengan antawacana itu. Oleh sebab itu, ia harus pandai mengatur volume suara dan irama bicaranya. Kapan irama bicara itu harus cepat, lambat, dan kapan volume suara itu harus keras dan lemah.     

Bagi para dalang, antawacana adalah salah satu bagian keterampilan yang dipandang sangat penting dan sukar. Dipandang penting, karena ia bukan saja karena harus pandai meramu bahasa dialog secara spontan dan mengalur sesuai lakon, akan tetapi juga harus memperhatikan intonasi, volume suara, agar perbedaan suara bicara dari masing-masing tokoh wayang itu menjadi jelas. Dipandang sukar, karena dalam satu lakon, wayang yang dimainkan itu jumlahnya puluhan, sehingga ia harus paham masing-masing intonasi dan gaya bicaranya. Suara tokoh wayang perempuan harus beda dengan suara tokoh wayang laki-laki. Demikian pula antara suara wayang yang berkarakter gagah dengan wayang buta, sampai dengan wayang punakawan. Oleh sebab itu, untuk menempuh mengatasi kesukaran tersebut banyak dalang yang melakukan ritual khusus, dan menghindari beberapa pantangan atau tabu yang sekiranya dapat merusak suaranya. Ketika mendalang, ia harus menjaga suaranya sedemikian rupa agar tidak serak. Apalagi jika panggungannya banyak dan dalam waktu yang berkesinambungan.

Seperti halnya nyandra, praktik antawacana wayang juga ada di antara pakem ngomong dan ngalagon (bicara biasa dan menyanyi). Dalam banyak dialog, setiap kalimat senantiasa dituntun oleh nada-nada gamelan, bahkan tak jarang kalimat dialog itu sengaja “dinyanyikan”. Kalaupun demikian banyak pula dialog yang lepas dari nada-nada gamelan, seperti kita dengar dalam dialog antarpunakawan misalnya.

Jika diperhatikan secara seksama, pertunjukan wayang itu bak sebuah drama musikal yang sangat unik dan rumit. Oleh karena aitu, antawacana yang dipraktikkan dalam bentuk dialog antartokoh wayang, dengan sangat gamblang bahwa pertunjukan wayang itu menunjukkan totalitasnya sebagai drama musikal.