Info

Judul : Alok

Penulis : Toto Amsar Suanda

Pustaka : -

Sumber : -

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Alok

- Mon, Feb 25 2013 11:50:14

Dalam karawitan Sunda, alok adalah nyanyian atau kawih yang biasanya dilantunkan secara solois oleh seorang pria seperti yang sering kita dengar dalam pergelaran wayang golek, wayang kulit, wayang cepak, kiliningan, celempungan, bujangga, dan sebagainya. Di lingkungan karawitan Sunda, orang yang melantunkannya disebut Juru Alok atau Wiraswara. Syairnya berupa pantun (sisindiran) atau kata-kata yang dirangkai menurut kehendak penyanyinya. Dalam syair lagunya, seringkali diselipkan nama seseorang sebagai penghormatan atau sebagai cara untuk mendapatkan saweran. Di daerah Cirebon dan Indtramayu, menyebut nama seseorang dalam sindenan disebut jambu alasan.

Di dalam kehidupan karawitan Sunda, khususnya kiliningan atau wayang golek, peran Juru Alok sangat penting. Ia bukan saja hanya mengisi kekosongan dalam struktur lagu, akan tetapi juga sebagai penghubung antara baris melodi yang terdapat dalam lagu yang dinyanyikan oleh sinden serta harmonisasi komposisi musik itu sendiri.  Oleh sebab itu, tidaklah heran jika dikenal nama-nama juru alok yang popularitasnya juga tak kalah dengan pesinden atau dalang, seperti Mang Samin, Mang Eye, Mang Dedi Rosida, dan lain-lain.

Dalam karawitan Cirebon dan Indramayu (tayuban, wayang, kliningan, tarling), sebutan alok sama dengan nglagon, akan tetapi tidak ada orang yang secara khusus dijadikan juru nglagon, karena nglagon biasanya dilantunkan secara rampak atau bersama-sama. Syairnya bukan berupa pantun melainkan kata-kata yang tidak mempunyai arti, misalnya e walele, walele, e walele. Alok atau nglagon, biasanya muncul di sela-sela nyanyian sinden, di antara kenongan dan goongan lagu.