Info

Judul : Arja - Pertunjukan Bali

Penulis :

Pustaka :

Sumber :

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Arja - Pertunjukan Bali

- Tue, Aug 07 2012 12:06:36

Arja adalah suatu jenis pertunjukan teater tari-musik di Bali, semacam "opera," seperti halnya langendriyan dan langen mandra wanara di Jawa. Kesennian ini, walau kental tradisinya, baik dari sisi musik, tari, cerita dan penokohannya, menurut para ahli konon baru muncul pada awal abad-19. Arja membawakan cerita-cerita Panji (di Bali lebih sering disebut cerita Malat), dan cerita-cerita rakyat lainnya. Cerita Jayaprana dan Cupak-Grantang, adalah 2 misal yang terkenal dari jenis cerita rakyat. Dalam lakon apa pun, dalam arja terdapat tokoh-tokoh yang karakternya baku (stereotyped) seperti misalnya Galuh (putri, cantik), Condong (pelayan putri), pangeran ganteng, penasar (pengiring pangeran), dan tokoh kasar sebagai lawan (antagonis) dari pangeran. Para pemainnya menari (karena itu bisa disebut drama tari), dan juga menyanyikan sebagian dialognya (karena itu bisa disebut opera)--kesenian tradisional Nusantara (juga di negara lain) umumnya tidak bisa dipisah-pisahkan antara musik, tari, teater, dan seni-rupa, tidak seperti kategori seni klasik (fine arts) modernisme Barat. Para pemainnya terdiri dari laki-laki dan perempuan, sesuai dengan jender yang diperankannya.

Arja diiringi oleh seperangkat gamelan (gambelan) yang disebut gaguntangan (geguntangan), yang terbangun oleh instrumen-instrumen yang terbuat dari bambu (guntang, beberapa macam) gendang, dan suling. Ensambel ini relatif lirih, suaranya tidak sekeras gambelan lain di Bali, dan dengan itu maka suara nyanyian bisa terdengar dengan baik--terutama pada jaman dahulu ketika belum ada sistem amplifikasi suara. Setelah masuknya sistem amplifikasi suara, yang memungkinkan suara penari-penyanyi terdengar keras, lahirlah pula arja-arja yang diiringi dengan ensambel gong (gambelan) lengkap,

Banyak orang Bali yang senang dengan mendengar musiknya saja, sehingga arja sempat populer pula melalui siaran di stasiun radio. RRI Bali, misalnya, pernah memiliki grup arja yang disiarkan secara rutin.

Untuk bisa menari dan sekaligus menyanyi, memang tidak mudah. Tapi, umumnya para seniman, laki-laki maupun perempuan, bisa keduanya, walaupun tentu ada salah satu bidangnya yang menonjol. Padunya tari dan nyanyi ini sangat disukai, sebagai ungkapan seni yang utuh, menyentuh rasa yang mendalam. Walaupun pada suatu periode sempat turun popularitasnya (seperti halnya kesenian lain), sampai kini arja merupakan kesenian yang digemari masyarakat Bali, baik di desa-desa maupun di kota-kota. Bahkan, kini terdapat jenis arja baru yang ditumbuhkan oleh para seniman "modern" (para dosen-mahasiswa Institut Seni Indonesia Denpasar), di mana semuanya pemainnya laki-laki--karena itu disebut arja cowok atau arja muani. (Endo Suanda, dari pelbagai sumber).