A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

Tikar Media
Info

Judul : Adeg-adeg - Tari Sunda

Penulis : Endo Suanda

Pustaka : -

Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Adeg-adeg - Tari Sunda

- Mon, Feb 25 2013 12:02:48

Adalah istilah (nomenklatur) dalam tari Sunda, mengacu pada sikap atau posisi dasar kedua kaki dalam “berdiri.” Kedua kaki tidak sejajar, melainkan yang satu lebih ke depan sekitar 30-45 derajat. Kedua lutut menekuk, kaki yang di belakang lebih menyangga tubuh dan menekuk (rengkuh) daripada yang di depan. Setiap penari memiliki ukuran tersendiri, sesuai dengan kesenangan atau kebiasaan masing-masing, tapi umumnya mempunyai ukuran jarak kaki sesuai dengan karakter tari yang dibawakan: lebih gagah tariannya, lebih lebar jaraknya.

Untuk adeg-adeg tari perempuan (putri), jarak antara kedua kaki umumnya tak lebih dari panjang telapak kaki, bahkan banyak yang hampir menempel, tapi sama posisinya seperti laki-laki: serong, tidak sejajar ke samping. Istilah lain untuk adeg-adeg dalam tari Sunda ini adalah kuda-kuda, yang lebih biasa dipakai di daerah Cirebon, dan juga pasang, atau pasang kuda-kuda--nama yang sama dipakai dalam pencak silat. Dalam tari Jawa, Yogyakarta dan Surakarta, sikap tari seperti adeg-adeg ini disebut tanceb yang berarti "tancap" atau "terpancang."

Sikap berdiri ini dalam banyak tradisi tari dianggap sangat penting, dilatihkan sejak awalan belajar menari, untuk bisa menyangga tubuh agar terkoordinasi, terkontrol, dengan gaya yang betul. Walaupun tidak bergerak, adeg-adeg telah menunjukkan sikap dan mental menari, berbeda dengan berdiri sehari-hari. Ekspresi karakter tari pun sudah terungkapkan dengan posisi kaki itu. Untuk bisa berdiri yang berbeda dari biasanya, tapi harus terasa "biasa," tidak merasa kaku, dengan gaya yang khusus itu, memerlukan latihan yang cukup lama.

Selain berarti suatu posisi berdiri, adeg-adeg juga merupakan istilah untuk bagian tarian bagian awal (setelah berdiri jika tarian dimulai dengan duduk), yang memang gerak kakinya lebih banyak adeg-adeg di tempat. Bagian ini bisa relatif panjang, terdiri dari beberapa frasa, hingga beralih pada bagian berikutnya, seperti misalnya ke gerak jangkung ilo dalam tari kursus. (Endo Suanda).