Info

Judul : Cempala

Penulis :

Pustaka :

Sumber :

 

A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - X - Y - Z

Cempala

- Fri, Jul 27 2012 11:47:32

Cempala adalah alat pukul yang pada umumnya dipergunakan oleh dalang wayang (kulit atau golek) serta oleh sebagian penabuh kecrek (pengeprak) dalam pertunjukan topeng Cirebon. Alat ini sangat penting artinya bagi dalang wayang dan dalang topeng karena suara yang dihasilkannya mempunyai berbagai makna baik bagi para nayaga, penari, maupun bagi pertunjukan wayang dan topeng itu sendiri. Bahannya terbuat dari sepotong kayu yang keras, misalnya kayu jati, nangka, mahoni, dan sebagainya. Bentuknya bulat, kira-kira sebesar ibu jari kaki orang dewasa, panjangnya sekitar 15 cm. Diameter bagian bawah lebih besar daripada bagian atasnya. Alat tersebut biasanya dipegang oleh tangan kiri dalang atau pengeprak tadi dan dipakai untuk mengetuk-ngetuk sisi kotak wayang atau kotak topeng bagian dalam, dan sesekali bagian luarnya.

Cara memegangnya dijepit di antara ibu jari dan telunjuk, sedangkan tiga jari lainnya berfungsi untuk menggetarkan dan menghentakkan alat tersebut ke bagian dalam sisi kotak. Akan tetapi pada saat-saat tertentu dan untuk menghadirkan suasana tertentu pula, alat tersebut dipegang dengan cara dikepal dan dihantamkan ke sisi kotak bagian luar atau kepada kecrék. Tangan kiri dalang yang memegang cempala biasanya diletakkan di bibir kotak, sehingga tangan tersebut tersangga oleh bibir kotak di samping dalang duduk.

Di dalam pertunjukan topeng Cirebon, Cempala senantiasa dipegang oleh pengeprak, sedangkan dalam pertunjukan wayang dipegang oleh dalang. Benda tersebut sesekali dilepaskan oleh dalang jika wayang harus dimainkan oleh kedua tangannya.

Jika dipegang, cempala biasanya dipukulkan atau diketukkan ke sisi kotak, dan fonem yang dihasilkannya terbatas pada bunyi tok dan toroktok. Bunyi-bunyi tersebut merupakan tanda untuk bermacam-macam hal yang berkaitan dengan suasana adegan, pergantian lagu dan irama, antawacana (dialog wayang), dan sebagainya. Sesekali, bunyi cempala bisa terdengar berpadu atau bersahut-sahutan dengan bunyi kecrék. Paduan bunyi tersebut, misalnya bisa kita dengar ketika dalang mengakhiri suatu lagu (madakeun) yang tengah dimainkan. Atau ketika pergelaran wayang itu baru dimulai, pada saat lagu Karatagan atau Kawitan dimainkan.

Dalam pertunjukan topeng Cirebon, bunyi cempala biasa beriringan dengan bunyi kecrek dengan memperhatikan gerakan-gerakan penari seiring dengan bunyi pukulan kendang.

Penulis: Toto Amsar Suanda